Jakarta, Batak Pos (16/11)
Kecamatan Habinsaran dikenal sebagai daerah yang kaya potensi berupa setumpuk kekayaan alam nan subur. Namun, akibat minimnya perhatian pemerintah, Habinsaran belum bisa disebut sebagai daerah maju. Kendati begitu, upaya perbaikan menyeluruh masih belum terlambat.
Meski telah berdiri sejak 1907, belum banyak yang bisa dibanggakan Kecamatan Habinsaran, Tobasa. Sentuhan pembangunan di sektor-sektor vital masih terlihat begitu-begitu saja. Bahkan, sektor pertanian yang disebut sebagai sektor andalan Tobasa masih belum diberdayakan dengan serius. Penyebabnya beragam, salah satunya pembangunan infrastruktur ke desa-desa terpencil masih terkesan dianggap seperti angin lalu. Lihat saja, sebagai desa terluas, Panamparan dengan luas wilayah 111,71 km persegi merupakan salah satu desa tertinggal meski alamnya menyimpan potensi yang cukup besar. “Faktanya, hingga saat ini kondisi infrastruktur menuju Panamparan cenderung dipandang sebelah mata,” ungkap N Pardosi, warga Parsoburan kepada Batak Pos beberapa waktu lalu.
Ia menguraikan, adanya kesenjangan pembangunan antar wilayah, belum terintegrasinya sumber daya lokal dengan kawasan pertumbuhan, kualitas sumber daya masyarakat yang belum mumpuni, serta rendahnya kemampuan kelembagaan aparat pemerintah merupakan faktor-faktor yang menjadikan kawasan Habinsaran masih tetap terisolasi. Dengan kata lain, sambung dia, banyaknya desa tertinggal seperti Panamparan dan puluhan desa lainnya otomatis akan berdampak langsung pada perkembangan Tobasa secara luas. “Hasil pertanian seperti kopi, padi, maupun kemenyan akhirnya tidak mampu bersaing karena buruknya kondisi infrastruktur,” tandasnya.
Selain kondisi infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang buruk, Pardosi juga menyoroti lemahnya kemampuan aparat pemerintah dalam rangka peningkatan hasil pertanian. “Lihat saja, jumlah tenaga penyuluh pertanian dan penyediaan bibit varietas unggul masih terbatas. Akibatnya, pola pertanian masyarakat cenderung berjalan di tempat,” kata dia. Selain itu, peralatan pertanian yang disediakan pemerintah seperti traktor juga sudah rusak. Hal ini membuat para petani masih tetap mengandalkan cara-cara konvensional untuk mengolah lahannya. Lebih parahnya lagi, Pardosi menjelaskan, pembagian pupuk bersubsidi pemerintah di Habinsaran masih diselimuti aroma KKN. “Semua warga sepertinya sudah tahu pembagian pupuk bersubsidi telah menyimpang. Akibatnya, pupuk kadang-kadang jadi langka. Kalaupun ada, harganya pasti melambung tinggi,” urainya.
Kondisi ini juga diperparah oleh akses masyarakat untuk memperoleh dana pinjaman dari bank yang belum maksimal. Sehingga, para petani mau tidak mau harus pasrah mengandalkan sumber dana seadanya. “Akses memperoleh pinjaman dari bank, baik oleh petani maupun pengusaha masih terbatas,” kritik Pardosi. Lagi-lagi, kondisi ini merupakan persoalan yang seharusnya tidak terjadi. Seperti diketahui, untuk tahun 2010, pemerintah menyediakan KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar 40 persen untuk sektor pertanian dari total anggaran Rp 20 Triliun.
Tak hanya sektor pertanian dan kondisi infrastruktur yang buruk, minimya fasilitas dan pelayanan kesehatan di wilayah Habinsaran juga banyak disoroti. “Di Puskemas Parsoburan saja, pelayanan dan fasilitas kesehatan masih terbatas, apalagi di desa terpencil,” gerutu warga Parsoburan lain yang tidak bersedia menyebutkan identitasnya. Padahal, kata dia, terdapat banyak warga yang ingin berobat ke Puskesmas khususnya warga dari desa-desa terluar Habinsaran. “Pembangunan pos-pos kesehatan di desa-desa terpencil semestinya lebih ditingkatkan. Jangan hanya berfokus di Parsoburan saja,” urainya. Bukan itu saja, ia juga mengaku kecewa terhadap rendahnya mutu pendidikan di Habinsaran yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. “Jumlah guru dan fasilitas pendukung pendidikan semisal komputer masih belum memadai. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin bisa bersaing dengan daerah lain?” katanya.
Ikatan Psikologis
Diungkapkan Pardosi, Parsoburan sebagai ibukota Habinsaran, selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus perekonomian, juga memiliki ikatan psikologis dengan seluruh cakupan wilayahnya, termasuk Borbor dan Nassau, dua kecamatan yang lahir dari rahim Habinsaran. Karena itulah, Pardosi berharap Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak memberikan perhatian yang lebih maksimal terhadap Habinsaran. “Kita semua tahu, secara historis hubungan psikologis antara Pak Bupati dengan Habinsaran telah dijalin sejak tahun 1970-an. Apalagi istri beliau juga kan boru Pardosi. Tentunya, ini bisa menambah kerinduan Pak Bupati menyaksikan Habinsaran menjadi lebih maju. Jangan tertinggal lagi,” urai dia. Sekadar pembanding, Pardosi berharap agar Kasmin Simanjuntak bertindak serupa dengan Presiden AS Barack Obama. “Presiden Obama saja yang pernah tinggal di Jakarta selama empat tahun, pada kunjungannya beberapa waktu lalu secara nyata menunjukkan keinginannya membangun kerjasama yang lebih erat dengan Indonesia. Saya berharap, Pak Bupati berbuat lebih dari itu,” tukasnya.
Itulah sebabnya, Pardosi meminta agar sektor pertanian dan infrastruktur di wilayah Habinsaran jangan lagi dinomorduakan. Ia beralasan, sebagai kecamatan terluas di Tobasa, Habinsaran seharusnya mendapat porsi perhatian yang lebih besar. Namun, ia juga mengakui, untuk menaklukkan kondisi alam Habinsaran, kerja keras adalah kata kuncinya. “Dengan cakupan wilayah yang luas ini, pelayanan terhadap masyarakat bukanlah persoalan mudah. Apalagi, kondisi alam Habinsaran yang mayoritas kawasan berbukit, seringkali menjadi kendala teknis yang pada akhirnya menyebabkan mininmya pelayanan,” katanya.
Akan tetapi, kondisi alam itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan desa-desa terpencil. Sebab, meski sulit dijangkau, desa-desa tersebut menyimpan potensi yang tak sedikit. Selain itu, fasilitas maupun pelayanan kesehatan dan pendidikan juga menjadi tugas penting yang tidak bisa dianggap sepele. “Saya yakin Pak Bupati bisa memberikan yang terbaik bagi Habinsaran. Sebagai menantu masyarakat Habinsaran, tentunya Pak Bupati sudah sangat memahami apa yang dibutuhkan seluruh masyarakat Habinsaran,” harap dia.
http://parsoburanimpj.multiply.com/journal/item/45/Kecamatan_Habinsaran_Kaya_Potensi_Minus_Perhatian
Sebelumnya: Tolak Penggantian Lurah, Masyarakat Parsoburan Tengah Gelar Unjuk Rasa